Gaun pengantin seberat delapan kilogram itu terasa seperti rantai besi yang melilit tubuh Alya Maheswari.

Ia duduk di tepi ranjang berukuran king-size yang berlapis seprai sutra putih. Hamparan kelopak mawar merah yang ditata menyerupai bentuk hati di tengah ranjang itu justru terlihat seperti noda darah di matanya. Pesta pernikahan megah yang menelan biaya miliaran rupiah baru saja berakhir satu jam yang lalu. Ribuan tamu, kilau lampu kristal, dan denting gelas champagne—semuanya terasa seperti ilusi yang menyiksa.

Suara kenop pintu yang diputar membuat bahu Alya menegang.

Raka Pradipta melangkah masuk. Pria yang beberapa jam lalu mengucap janji suci di hadapan ratusan orang itu kini berdiri di hadapannya. Di luar sana, semua orang memujanya. Raka adalah pewaris tunggal Pradipta Group—tampan, mapan, dengan rahang tegas dan tatapan mata tajam yang selalu berhasil membuat wanita manapun bertekuk lutut.

Namun, saat pintu tebal berukir itu tertutup rapat, aura ruangan berubah drastis. Tidak ada senyum hangat. Tidak ada tatapan memuja.

Raka melonggarkan dasinya dengan gerakan lambat dan terukur, seolah Alya tidak ada di ruangan itu. Ia melepas jas tuxedo hitamnya, melemparnya asal ke atas sofa velvet di sudut ruangan, lalu berjalan menuju meja kecil yang memuat sebotol whiskey dan dua gelas kristal.

Alya menelan ludah. "Raka..." suaranya terdengar serak, hampir seperti bisikan.

Pria itu tidak menoleh. Ia menuang cairan amber itu ke dalam gelas, suaranya beradu dengan keheningan yang mencekik. "Tolong hapus makeup-mu, Alya. Kau terlihat berantakan."

Dada Alya seakan dihantam batu besar. "Berantakan?"

Raka memutar tubuhnya, menyesap minumannya dengan tenang. Matanya yang gelap menatap Alya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu menelanjangi, tapi bukan dengan hasrat, melainkan dengan penilaian dingin.

"Pestanya sudah selesai. Kamera sudah mati. Tidak perlu lagi bersandiwara seolah kau adalah pengantin paling bahagia di dunia." Raka melangkah mendekat, berhenti tepat setengah meter di hadapan Alya.

"Apa maksudmu?" Alya mendongak, menahan gemetar di bibirnya. "Kita baru saja menikah, Raka. Di depan Tuhan."

Raka tertawa pelan. Tawa yang sama sekali tidak mencapai matanya. Pria itu membungkuk, menopang sebelah tangannya di sandaran ranjang, mengurung Alya dengan bayangannya. Wajah mereka sangat dekat, Alya bisa mencium aroma sandalwood bercampur alkohol dari napas Raka.

"Tuhan?" Raka menyeringai sinis. "Kita berdua tahu persis ini bukan tentang Tuhan, Alya. Ini tentang menyelamatkan perusahaan ayahmu yang hampir mati."

"Raka, tolong..."

"Dengarkan aku baik-baik," potong Raka, nadanya merendah, berat, dan mematikan. "Jangan pernah berharap lebih dari malam ini, atau malam-malam selanjutnya. Di luar ruangan ini, kau adalah Nyonya Raka Pradipta. Kau akan tersenyum, kau akan menggandeng tanganku, dan kau akan menjadi istri yang sempurna di mata publik."

Mata Alya memanas. Air matanya memberontak ingin tumpah, tapi ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "Dan di dalam ruangan ini?"

"Di dalam sini," Raka menegakkan tubuhnya kembali, memandang Alya dari posisi dominan, "ini cuma perjanjian. Sebuah transaksi bisnis yang kebetulan membutuhkan selembar buku nikah."

Alya meremas gaunnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kau pikir aku mau berada di sini? Kau pikir aku menginginkan pernikahan ini?!" suaranya akhirnya pecah. Emosi yang sejak pagi ia kubur dalam-dalam akhirnya meledak. "Kalau bukan karena papa—"

"Tapi nyatanya kau ada di sini, bukan?" Raka memotong cepat. Matanya menyipit berbahaya. "Kau menjual dirimu untuk menyelamatkan keluargamu. Jadi, bertingkahlah seperti barang yang sudah dibeli dengan harga mahal. Jangan merengek."

Plak!

Tangan Alya melayang begitu saja, menampar pipi kiri Raka. Napas Alya terengah. Dadanya naik turun dengan cepat. Ia sendiri terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya.

Ruangan itu mendadak hening seketika. Hening yang menulikan.

Raka tidak berteriak. Ia bahkan tidak memegang pipinya yang mulai memerah. Pria itu hanya menolehkan kembali wajahnya secara perlahan, menatap Alya dengan sorot mata yang membuat darah Alya membeku.

"Berani sekali kau," desis Raka, sangat pelan, namun setiap silabelnya mengiris udara.

Pria itu mencengkeram rahang Alya dengan satu tangan. Cengkeramannya kuat, memaksa Alya mendongak menatap matanya. "Dengar ini, Alya. Mulai detik ini, kau milikku. Hidupmu, waktumu, langkahmu, semuanya ada di bawah kendaliku. Jangan pernah berpikir kau bisa melawanku, atau ayahmu akan melihat perusahaannya rata dengan tanah besok pagi."

Air mata Alya akhirnya jatuh, mengenai punggung tangan Raka. "Kau monster..." isaknya tertahan.

Raka melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Alya sedikit terhuyung ke belakang. Ia mengambil saputangan dari saku celananya, mengelap tangannya yang baru saja menyentuh Alya seolah wanita itu adalah sesuatu yang kotor, lalu membuang saputangan itu ke lantai.

"Bersihkan dirimu. Aku tidak suka berbagi tempat tidur dengan wanita yang menangisi nasibnya sendiri." Raka membalikkan badan, berjalan menuju pintu kamar mandi. "Dan satu lagi," langkahnya terhenti di ambang pintu, "Aku tahu isi kepalamu, Alya. Lupakan anjing jalanan yang kau sebut kekasih itu. Dia tidak akan datang menyelamatkanmu. Dia sudah membuangmu."

Pintu kamar mandi dibanting tertutup.

Alya hancur. Kakinya kehilangan tenaga. Ia meluruh ke lantai, membiarkan gaun mahalnya terseret di atas karpet. Tangisnya pecah, tanpa suara, tenggelam dalam isakan yang menyumbat tenggorokannya.

Kedua tangannya memeluk lutut. Ucapan terakhir Raka adalah pisau yang paling tajam.

Adrian...

Nama itu bergema di kepalanya, membawa rasa perih yang tak tertahankan. Mengapa? Mengapa Adrian meninggalkannya di saat ia paling membutuhkannya?

Di malam di mana ia seharusnya menyerahkan seluruh hidupnya pada pria yang ia cintai, Alya justru terjebak di neraka yang berkedok istana berlian. Malam yang salah. Keputusan yang salah. Dan semuanya sudah terlambat.