*"Maaf, Mas. Saya rasa kita tidak cocok. Mas terlalu... dingin."*


Kalimat itu jatuh ke meja seperti gelas yang pecah. Pelan. Tapi semua orang di kafe sempat menoleh.


Farhan tidak sempat menjawab. Perempuan di hadapannya — Salsabila namanya, tiga puluh dua tahun, perawat di rumah sakit swasta, anak ketiga dari empat bersaudara, hobi memasak dan menulis puisi — sudah berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan keluar dari kafe sambil menutup wajahnya dengan ujung jilbab.


Pintu kafe berdenting saat ia keluar.


Farhan masih duduk. Tangannya masih melingkar di cangkir teh yang sudah dingin sejak setengah jam lalu. Di seberang meja, kursi yang baru saja kosong masih bergoyang sedikit, seolah ingin mengingatkan dirinya sendiri bahwa baru beberapa detik lalu ada orang di sana.


Pelayan kafe melewati mejanya, melirik dengan ekspresi yang sudah Farhan kenal — campuran antara kasihan dan ingin tahu. Bukan kali pertama Farhan dipergoki seperti ini. Kafe ini sudah jadi semacam tempat pengulangan: meja yang sama, pelayan yang sama, dan adegan akhir yang nyaris sama.


Bedanya, kali ini perempuan itu cukup sopan untuk mengatakan alasannya.


*Terlalu dingin.*


Farhan menatap permukaan teh yang berlapis selaput tipis. Ia coba mengingat — apa yang ia katakan tadi? Ia menjawab semua pertanyaan. Ia bertanya balik. Ia mendengarkan. Ia tidak memotong. Ia bahkan menawarkan untuk membayar ulang ongkos taksi Salsabila kalau ia mau pulang lebih awal. Mana bagian yang dingin?


Mungkin justru itu. Mungkin ia terlalu rapi. Terlalu sopan. Terlalu seperti dokter yang sedang anamnesis pasien.


Ia menyandarkan punggung ke kursi, menutup mata sebentar.


*Kali keenam.*


Ia bahkan hampir tidak butuh menghitung lagi. Tubuhnya sudah hafal ritmenya. Pertemuan pertama yang sopan, pertemuan kedua yang mulai canggung, lalu — entah di pertemuan ketiga atau lewat pesan singkat — kalimat yang selalu mirip. *Saya rasa kita tidak cocok. Maaf, Mas.*


Selalu *maaf*. Selalu *Mas*. Tidak pernah panggilan yang lebih dekat. Tidak pernah ada kesempatan untuk panggilan yang lebih dekat.


Ponsel di sakunya bergetar.


Farhan tidak perlu melihat layar untuk tahu siapa. Ia menarik napas, membiarkan getaran itu berhenti sendiri, lalu menghitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga.


Ponselnya bergetar lagi.


Ia mengangkat.


"Assalamualaikum, Pak."


*"Waalaikumsalam."* Suara ayahnya di seberang, datar, tapi Farhan tahu — di balik datar itu ada api kecil yang sudah lama menyala. *"Bagaimana?"*


"Tidak jadi, Pak."


Hening sebentar.


*"Sampai kapan kamu mau begini, Han?"*


Farhan tidak menjawab. Ia menatap meja, ke tempat tadi Salsabila menaruh tasnya. Ada sedikit titik teh yang menetes di permukaan kayu — bekas tangannya yang gemetar saat menuangkan teh untuk Salsabila tadi. Tangan Farhan, bukan tangan Salsabila. Ia gemetar, dan ia bahkan tidak sadar.


*"Han?"*


"Iya, Pak."


*"Ayah tanya, sampai kapan?"*


"Pak, saya juga tidak tahu—"


*"Kamu tahu umur ayah berapa?"*


Farhan menutup mata.


*"Enam puluh delapan, Han. Enam puluh delapan. Dokter bilang ginjal ayah tinggal satu yang berfungsi. Ayah cuma minta satu hal — lihat kamu menikah sebelum ayah pergi. Itu saja. Tapi kamu... kamu ini kenapa, Nak?"*


"Pak, bukan saya yang tidak mau—"


*"Lalu siapa? Allah? Salsabila tadi cantik. Pendidikan bagus. Keluarga baik. Kamu menolak juga?"*


"Bukan saya yang menolak, Pak."


Hening lagi. Lebih lama kali ini.


*"Han."* Suara ayahnya melembut, dan justru itu yang membuat dada Farhan lebih sakit. *"Kamu harus mulai lihat ke dalam, Nak. Kalau enam kali semua orang menolak — barangkali bukan mereka yang masalahnya."*


Farhan ingin menjawab.


Ia ingin bilang — *Ayah pikir saya tidak tahu? Ayah pikir saya tidak menatap cermin setiap pagi dan bertanya hal yang sama?*


Tapi yang keluar dari mulutnya hanya: "Iya, Pak. Saya pulang dulu, Pak. Assalamualaikum."


Ia menutup telepon sebelum ayahnya sempat mengucap salam balasan.


---


Hujan turun saat Farhan keluar dari kafe.


Bukan hujan deras. Hujan yang malas — rintik kecil yang justru lebih menyebalkan daripada yang lebat, karena tidak cukup besar untuk membuatnya berlari, tapi cukup untuk membuat bahu jaketnya basah pelan-pelan.


Ia berjalan ke mobilnya, masuk, dan menutup pintu.


Lalu ia hanya duduk.


Wiper tidak ia nyalakan. Mesin tidak ia hidupkan. Ia hanya duduk, menatap kaca depan yang perlahan tertutup butiran air, hingga dunia di luar mobil berubah jadi gambar kabur — kafe yang masih menyala, orang-orang yang lewat memayungi diri, mobil-mobil yang bergerak pelan di jalan basah.


Tangan kanannya bergerak sendiri. Ia tidak sadar sampai ia melihat kunci kontak sudah berputar dan mesin sudah menyala. Tubuhnya tahu jalan pulang sebelum kepalanya memutuskan.


Tapi malam itu, tubuhnya tidak membawanya pulang.


Ia menyetir ke arah utara. Lewat tiga lampu merah. Belok ke jalan kecil yang ia hapal di luar kepala — yang seharusnya tidak ia hapal lagi, yang sudah tiga tahun ia hindari, tapi yang tetap saja terukir di otaknya seperti tato yang tidak bisa dihapus.


Pemakaman umum di pinggir kota.


Hujan masih turun saat ia memarkir mobil di pinggir pagar.


Ia tidak turun.


Ia hanya duduk, kedua tangan masih di setir, memandang ke arah gerbang pemakaman yang berkilauan basah di bawah lampu jalan. Dari mobil, ia tidak bisa melihat makam yang ia datangi — terlalu jauh, terlalu banyak makam lain. Tapi ia tahu di mana letaknya. Baris ketiga dari pintu masuk. Dekat pohon kamboja yang dulu masih kecil, sekarang sudah besar.


*Sarah.*


Ia menyebut nama itu di dalam kepalanya, pelan, seperti mengetuk pintu yang sudah lama ia kunci.


*Sarah, aku gagal lagi.*


Air mata datang dari mana, ia tidak tahu. Mungkin dari lelah. Mungkin dari malu. Mungkin dari pertanyaan yang sudah tiga tahun ia tahan — *kalau kamu masih ada, apakah aku akan baik-baik saja sekarang?*


Ia menyandarkan kepala di setir. Ia tidak terisak. Hanya air yang turun pelan, sama seperti hujan di luar.


Lalu ponselnya berdering.


Bukan nada dering ayahnya. Yang ini lebih pelan, lebih sederhana. Nama yang muncul di layar membuat Farhan menarik napas dalam-dalam sebelum mengangkat.


**Ustadzah Maemunah.**


"Assalamualaikum, Bu."


Suara di seberang tetap hangat seperti biasa, meski Farhan tahu ustadzah pasti sudah dapat kabar dari entah siapa. *"Waalaikumsalam, Han. Kamu di mana?"*


"Sedang... istirahat, Bu."


*"Istirahat di mana?"*


Farhan diam. Ustadzah Maemunah punya cara — entah bagaimana — untuk tahu kalau ia berbohong, bahkan lewat telepon. Setiap kali. Sejak Farhan masih remaja, sejak ustadzah jadi guru mengajinya. Tidak pernah meleset.


"Di parkiran pemakaman, Bu."


Hening sebentar di seberang. Bukan hening yang menghakimi. Hening yang memahami.


*"Kamu nggak turun?"*


"Tidak, Bu."


*"Bagus."*


Farhan mengerutkan kening. "Bagus, Bu?"


*"Bagus kamu sadar kalau jawabannya bukan di situ."* Suara ustadzah lembut, tapi tegas. *"Sarah sudah selesai dengan urusannya, Han. Sekarang giliran kamu."*


Farhan tidak menjawab.


*"Han, ibu telpon karena ibu mau bilang satu hal."* Ustadzah berhenti sebentar, seolah memilih kata-kata dengan hati-hati. *"Ibu punya satu nama terakhir buat kamu."*


Farhan menutup mata.


"Bu—"


*"Dengar dulu, Han. Ibu bukan mau maksa. Ibu cuma mau jujur — ini yang terakhir dari ibu. Setelah ini, ibu nggak akan nawarin lagi."*


"Saya... saya nggak yakin saya sanggup lagi, Bu."


*"Ibu juga nggak yakin kamu sanggup, Han."* Kalimat itu jatuh seperti palu kecil, tapi tepat sasaran. *"Tapi kalau yang ini gagal juga, ibu mau jujur — masalahnya bukan di mereka."*


Farhan membuka mata.


Di luar mobil, hujan masih turun. Lampu pemakaman masih berkilau. Tapi sesuatu dalam dada Farhan, untuk pertama kali sepanjang malam itu, terasa diam sebentar. Bukan tenang. Hanya... berhenti gemetar.


"Bu—" Farhan menelan ludah. "Siapa orangnya?"


Di seberang, suara Ustadzah Maemunah tersenyum. Farhan bisa mendengarnya, meski wajah ustadzah tidak terlihat.


*"Besok, Han. Datang ke rumah ibu besok ba'da Maghrib. Ibu kasih biodatanya."* Suara ustadzah melembut. *"Tapi sebelum itu, Han — ibu minta satu hal."*


"Apa, Bu?"


*"Pulang. Sekarang. Jangan menginap di parkiran itu lagi."*


Farhan tertawa. Pelan. Pertama kalinya dalam hari ini. Tawa yang lebih mirip embusan napas.


"Iya, Bu. Saya pulang."


*"Janji?"*


"Janji."


Telepon ditutup.


Farhan menarik napas dalam-dalam, lalu memutar kunci kontak. Mesin menyala. Wiper bergerak. Kaca depan perlahan bersih dari air, dan dunia di luar mobil mulai jelas kembali.


Ia menarik mobil keluar dari pinggir pagar pemakaman.


Tapi sebelum menjauh, ia melirik ke spion. Ke arah baris ketiga dari pintu masuk, ke arah pohon kamboja yang sekarang sudah besar, ke arah makam yang tidak bisa ia lihat tapi tetap ia tahu ada di sana.


*Sarah,* ia berbisik dalam hati, *aku coba sekali lagi. Yang terakhir.*


Mobilnya melaju di jalan basah, menjauh dari pemakaman, menuju rumah yang akan dingin saat ia sampai — tapi setidaknya, malam ini, ada satu nama yang menunggunya di hari esok.


Ia tidak tahu nama itu apa. Ia tidak tahu siapa orangnya. Ia tidak tahu apakah ini akan jadi pertemuan ketujuh yang gagal, atau awal dari sesuatu yang berbeda.


Yang ia tahu, ustadzahnya — perempuan yang selama tiga tahun ini tidak pernah salah membaca dirinya — telah berkata satu kalimat yang terus berputar di kepalanya sepanjang perjalanan pulang:


*"Kalau yang ini gagal juga, masalahnya bukan di mereka."*


Farhan menatap jalan yang basah di depan.


Ia tidak tahu apakah itu peringatan, atau janji.


Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tidur dengan satu pertanyaan di kepalanya yang bukan tentang Sarah.


*Siapa nama itu?*


---